Sabtu, 06 Desember 2014

SABUN CAIR SEBAGAI KOLOID??

A. Pengertian Koloid
Koloid atau dispersi koloid (sistem koloid) adalah sistem dispersi dengan ukuran partikel yang lebih besar dari larutan tapi lebih kecil dari suspensi, dengan ukuran partikel antara 1nm-100nm sehingga tidak bisa diamati dengan mata telanjang tetapi dapat diamati dengan mikroskop dengan tingkat pembesaran yang tinggi.
Ciri-ciri sistem koloid:
1) Dispersi koloid.
2) Sifat campuran homogen secara makro- skopis, namun heterogen secara mikroskopis.
3) Dimensi partikel antara 1 – 100 nm.
4) Sistem dua fase dan relatif stabil.
5) Tidak dapat disaring, kecuali menggunakan penyaring ultra.

B. Jenis-Jenis Koloid
Sistem koloid terdiri atas 2 fasa, yaitu fasa terdispersi dan fasa pendispersi (medium dispersi). Berdasarkan jenis fasa terdispersi dan fasa pendispersinya koloid dapat dibedakan menjadi 8 jenis sebagai berikut:

Fase terdispersi
Medium pendispersi
Jenis
Nama
Contoh
padat
Padat
Sol padat
sol padat
kaca berwarna, intan hitam
Cair
sol cair
sol cair
tinta, cat, darah, sabun, detergen, lumpur, lem
Gas
sol gas
aerosol padat
asap, udara berdebu
Cair
Padat
Emulsi padat
gel
jelly, agar-agar, gelatin, mutiara
Cair
emulsi cair
emulsi
susu, santan, mayonnaise, minyak ikan
Gas
emulsi gas
aerosol cair
awan, kabut, racun nyamuk semprot, parfum
Gas
Padat
Buih padat
buih padat
aerogel, batu apung, styrofoam, roti, marshmallow
Cair
buih cair
buih
buih sabun, krim kocok, krim cukur

C. Sabun Cair
             Berdasarkan penjelasan diatas,  sabun merupakan salah satu bentuk dari sistem koloid. Sabun yang kita kenal selama ini ada yang berbentuk padat dan ada yang berbentuk cair. Disini hanya akan dibahas mengenai sabun cair.
            Sabun cair merupakan koloid dari fase terdispersi padat dan medium disperse berupa cair. Koloid ini termasuk dalam jenis koloid sol cair. Sol adalah sebutan untuk partikel padat yang terdispersi dalam partikel cair.
            Koloid dengan medium dispersi cair dibedakan menjadi koloid liofil (suka cairan) dan koloid liofob (benci cairan). Jika medium dispersi air, maka dibedakan menjadi koloid hidrofil (suka air) dan koloid hidrofob (benci air). Sabun termasuk dalam koloid hidrofil. Namun saat dimasukkan dalam air, sabun termasuk koloid asosiasi. Koloid asosiasi adalah koloid yang terbentuk ketika dilarutkan dalam air.
Koloid asosiasi tersusun atas partikel yang terdiri atas:
1) Gugus kepala, bersifat hidrofil dan polar.
2) Gugus ekor, bersifat hidrofob dan non-polar.
Sabun/detergen membentuk koloid asosiasi dalam air yang terdiri atas ion stearat (C18H35O2).
                            O
                           
CH3– (CH2)16 – C – O-
     hidrofob            hidrofil

Ketika dilarutkan dalam air, ekor asam stearat (hidrofob) saling berkumpul ke arah dalam air, dan kepala asam stearat (hidrofil) menghadap ke air. Koloid asosiasi pada sabun di air membuatnya menjadi pengemulsi kotoran dalam air. Gugus hidrofob akan menarik partikel kotoran lalu mendispersikannya ke air.
Sistem koloid sabun cair dibuat dengan cara kondensasi dengan reaksi penggantian pelarut. Dengan cara ini, partikel-partikel larutan sejati bergabung menjadi partikel-partikel koloid. Pada proses ini bahan-bahan dasar atau rempah-rempah dalam pembuatan sabun cair akan direbus menggunakan air kemudian ditambahkan dengan texapon dan garam. Diaduk hingga merata sampai mendidih. Setelah mendidih, ditambahkan air dingin, bibit parfume serta asam sitrat dan diaduk lagi hingga merata.Kemudian ditunggu hingga dingin.
Pemanfaatan sifat hidrofob dan hidrofil pada sabun digunakan ketika kita membersihkan badan saat  mandi. Kotoran yang menempel di badan ada yang mudah larut dalam air, tetapi banyak yang tidak larut dalam air, misalnya lemak dan minyak dari keringat kita. Proses pembersihan bertujuan agar lemak dan minyak dapat teremulsi di dalam air, tetapi lemak dan minyak lebih kuat menempel di badan sebab lemak dan minyak tidak larut di dalam air.
Dengan bantuan sabun maka minyak makin tartarik oleh sabun. Oleh karena sabun larut dalam air akibatnya minyak dan lemak dapat terangkat dari permukaan kulit. Kemampuan sabun menarik lemak dan minyak disebabkan pada molukel sabun terdapat ujung-ujung liofil yang larut dalam air dan ujung liofod yang berpegang erat pada lemak dan minyak . Akibat gaya tarik-menarik tersebut, tegangan permukaan lemak dan minyak dengan permukaan kulit menurun sehingga lebih kuat tertarik oleh molekul-molukel air yang mengikat kuat sabun.

Daftar Pustaka 
Achmad, Hiskia. 2001. Kimia Larutan. Bandung: Citra AdityaBakti.
Admin. 2013. Koloid Kim3 (Online), (http://materi78.files.wordpress.com/2013/06/koloid_kim3_2.pdf, diakses pada hari minggu, 23 November 2014)
Ari, Andian. 2008. Bahan Ajar Kimia Dasar (Online), (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Andian%20Ari%20Anggraeni,%20ST.,M.Sc./Kimia%20Dasar%20-%20Bab%2009%20-%20Koloid.pdf, diakses pada hari minggu, 23 November 2014)

Noviyanti, Eka. 2013. Laporan Karya Ilmiah Sistem Koloid. (Online), (http://ekanoviyantiandroid.blogspot.com/2013/05/laporan-karya-ilmiah-sistem-koloid.html, diakses pada hari selasa, 25 November 2014)

2 komentar: